kompleks makam sultan hasanuddin

 

makam berusia ratusan tahun,tempat peristrihatan pemimpin yang agung

Kompleks makam Sultan Hasanuddin adalah salah satu objek cagar budaya peniggalan kerajaan Gowa, yang masih dapat kita saksikan sampai sekarang. Menempati puncak bukit Tamalate, tepatnya di jalan Pallantikang, kelurahan Katangka, kecamatan Somba Opu, kabupaten Gowa.  Mengunjungi objek tersebut dapat melalui rute dari sungguminasa ibu kota Kabupaten Gowa melalui jalan Sultan Hasanuddin, kemudian berbelok Arah timur mengambil rute jalan Pallantikang.

Selain dimanfaatkan menjadi objek penelitian dalam pengembangan khazanah sejarah kebudayaan Nusantara, kompleks Makam Sultan Hasanuddin menjadi salah satu alternatif objek wisata sejarah dan juga banyak dikunjungi oleh peziarah, menandakan bahwa tempat tersebut masih memiliki ikatan emosional masa lalu dengan masyarakat.

Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sulawesi Selatan memiliki tugas dan fungsi mewujudkan pelestarian cagar budaya, meliputi perlindungan, pengembangan serta pemanfaatannya. Oleh karena itu, secara intensif dilakukan upaya dan langkah-langkah pelestarian, termasuk pada Kompleks Makam Sultan Hasanuddin. Upaya tersebut diantaranya melakukan pemeliharaan dengan menempatkan juru pelestari, kegiatan pengembangan dilakukan dengan melaksankan kajian-kajian dalam rangka merumuskan strategi pelestarian. Kemudian yang terbaru (2015) melakukan pemugaran pada salah satu makam yang berada di depan makam Sultan Hasanuddin. Segala rangkaian kegiatan pelestarian yang telah dilakukan untuk memaksimalkan pemanfaatan cagar budaya bagi masyarakat.  

riwayat singkat

Kerajaan Gowa adalah adalah salah satu kerajaan besar yang pernah ada di kawasan Nusantara. Pada masa lalu berkembang sebagai kerajaan maritim dengan kekuatan ekonomi politik yang memilki pengaruh kuat utamanya di bagian timur Nusantara. Mencapai puncak kejayaannya pada masa abad 16-17 Masehi, Sebelum jatuh di bawah kekuasaan VOC melalui pertempuran sengit dan panjang yang dikenal dengan “perang Makassar” tahun 1667.

Salah satu Raja Gowa yang terkenal dalam menentang usaha VOC dalam melancarkan usaha penjajahan adalah Sultan Hasanuddin. Beliau lahir pada 12 Juni 1629 dengan nama I Mallombasi Dg. Mattawang Muhammad Bakir Karaeng Bonto Mangape. Merupakan putra dari Raja Gowa ke XV, Sultan Malikusaid. Sultan Hasanuddin diangkat menjadi raja Gowa XVI mengantikan ayahnya yang mangkat pada tahun 1653. Atas sikap kepemimpinan dan usaha beliau dalam mempertahankan kedaulatan wilayahnya yang tidak kompromi terhadap praktik Penjajahan pada lalu, Sultan Hasanuddin dikukuhkan menjadi pahlawan Nasional melalui surat keputusan Presiden pada tahun 1973. Selain nama beliau juga di abadikan menjadi kompleks pemakaman untuk raja-raja Gowa juga di abadikan menjadi nama Bandara dan Perguruan Tinggi di Makassar.

Pada kompleks makam Sultan Hasanuddin terdapat 21 makam, yang merupakan makam raja-raja Gowa. Selain itu, terdapat juga beberapa makam keluarga dan kerabat lingkungan kerajaan. Orientasi makam adalah Utara-selatan sebagaimana ciri makam Islam.  Secara umum makam-makam tersebut terbagi dalam 3 tipe yaitu ,makan berbentuk punden berudak dengan teknik susun timbun sebagai cungkup makam, makam berkubah dan makam dengan bentuk sederhana berupa jirat atau kijing.

Beberapa tokoh yang dimakamkan pada kompleks pemakaman ini adalah adalah :

·      Makam Raja Gowa ke-XI

·      Sombangta I Mappasomba Daeng Manguraga, Sultan Amir Hamzah Tumenanga Ri Allu, Raja Gowa ke-XVII

·      Sombangta I Mappadulung, Daeng Mattimung Karaeng Sanrobone, Sultan Abdul Djalil, Tumenanga Ri Lakiung, Raja Gowa ke-XIX

·      Karaengta I Mallingkaang Daeng Mannjonri, Karaeng Katangka Sultan Abdullah Awalul Islam, Tumenanga Riagamana

·      Sombangta I Manggaranngi Daeng Manrabia, Sultan Alauddin, Tumenanga  Rigaukanna, Raja Gowa ke-XIV

·      Sombangta I Mannuntungi Daeng Mattola, Karaeng Udjung/Karaeng Lakiung, Sultan Malikussaid (Moh. Said), Tumenanga Ripapambatuna, Raja Gowa ke-XV

·      Sultan Hasanuddin, Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape, Mohammad Bakir, Tumenanga Riballa Pangkana

·      Sombangta I Mappaosong Daeng Manngewai, Karaeng Bisei, Sultan Ali, Tumenanga Ridjakarta, Raja Gowa ke-XVIII

·      Arung Lamontjong

 

Lewat ke baris perkakas